{"id":103,"date":"2020-01-18T03:17:03","date_gmt":"2020-01-18T03:17:03","guid":{"rendered":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/?p=103"},"modified":"2020-01-18T03:17:03","modified_gmt":"2020-01-18T03:17:03","slug":"sejarah-sd-cor-jesu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/?p=103","title":{"rendered":"Sejarah SD Cor Jesu"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sejarah dan Perkembangan SD Cor Jesu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejarah berdirinya SD Cor Jesu dimulai pada tahun 1911\nmenyusul dibukanya sekolah-sekolah dan beberapa macam kursus di Bojong pada\ntahun 1909. Meskipun situasi politik saat itu tidak menentu, dimana terjadi\npenjajahan, perang dan tantangan kekurangan pangan. Namun hal tersebut tidak\nmenyurutkan semangat para Suster untuk mempertahankan sekolah ini, karena\npendidikan bagi anak-anak harus tetap diutamakan. Berkat perjuangan dan\nkegigihan para Suster sekolah-sekolah di Bangkong dapat maju dan berkembang\ndengan pesat. Pada bulan Januari 1940 tercatat beberapa jenis sekolah dan\nkursus yang ada di Bangkong. Antara lain Frobel School (TK), Lagere School\n(SD), Javanese School (SD Pribumi), MULO (SMP), Kursus mengetik dan Kursus\nSteno.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun dunia bergolak lagi, perang Dunia ke-2\nberkecamuk. Tanggal 8 Desember 1941, para Suster dikejutkan adanya perang\ndiIndonesia. Semua harus bersiap-siap terhadap serangan udara. Gudang dijadikan\ntempat perlindungan para suster. Ruangan sekolah dijadikan kamar untuk\npertolongan pertama. Pada tanggal 19 Maret 1942 atas perintah Jepang sekolah\nditutup. Gedung-gedung Susteran dipergunakan untuk perlindungan orang-orang\nBelanda. Penghuni Camps terus bertambah setiap hari, orang-orang berdesakkan. Sehingga\nKapel dijadikan tempat tinggal dan ruang altar ditutup. Bangku-bangku Kapel\ndirusak untuk tempat tidur ataupun kayu bakar. Keadaan biara dan sekolah\ndiBangkong sudah sangat parah ketika masa pendudukkan Jepang berakhir tahun\n1945. Banyak cerita tentang gedung serta barang-barang yang hilang dan rusak\nakibat perang. Tanggal 18 Januari 1946, tujuh orang dan Suster didatangkan\nkembali ke Bnagkong dari Candi dengan menggunakan truk utnuk mengururs,\nmembersihkan dan memperbaiki seluruh gedung dan barang-barang yang rusak. 23\nJanuari para suster sudah bisa menempati loteng untuk kamar tidur dan ruang\ntamu beralih fungsi menjadi poliklinik. Bulan Pebruari sudah banyak orang\nmenanyakan kapan sekolah dan kursus-kursus bias dimulai lagi dan&nbsp; bulan Maret 1946, kegiatan belajar mengajar\ndi Lagere School (SD).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 2 Agustus 1948, murid-murid putera kelas\n1 dan 2 dipindahkan ke SD St. Yusup yang diasuh oleh Bruder-bruder FIC,\nsehingga SD Susteran Bangkong masih mempunyai murid putera kelas 3, 4 dan 5\nsebanyak 100 murid. 31 Desember 1948 tercatat jumlah murid SD Bangkong sebanyak\n380 anak. Tanggal 3 Januari 1950 sekolah dasar mulai dengan setengah hari di SD\nSt. Yusup dan Pandean Lamper, karena renovasi gedung di Bangkong belum selesai.\nBulan April 1950 gedung sekolah diduduki oleh TNI sehingga terpaksa sekolah\ndiliburkan. 1 Agustus 1950 sekolah dimulai lagi, tetapi murid-murid harus\nbelajar dihalaman sekolah karena kelas-kelas belum bias digunakan. Berkat\nperjuangan Pastor Van Beek dan Moeder Overste, gedung sekolah bisa ditinggalkan\noleh tentara setelah kira-kira 19 bulan mereka duduki. Karena peraturan\npemerintah tidak memperbolehkan nama sekolah menggunakan bahasa Belanda, maka\npada tanggal 16 Juli 1952 sekolah di Bangkong menggunakan nama baru antara\nlain: Sekolah Rakyat Cor Jesu ( d\/h De Europese Lagere School ), Sekolah Santo\nAntonius ( d\/h De Javanese Lagere School ), Sekolah Maria Mediatrix ( d\/h De\nMiddlellare School ).<\/p>\n\n\n\n<p>Tanggal 8 Maret 1953 Suster Stella Van Der Meer\nmenjadi Kepala Sekolah Rakyat Cor Jesu menggantikan Suster Clementine Van Der\nGeest yang menjadi Kepala Sekolah SMP Maria Mediatrix. Tanggal 22 Juli 1957\nKepala Sekolah Rakyat Cor Jesu digantikan oleh Suster Mechtildes Soekarni.\nLokasi jalan Halmahera disetujui sebagai gedung sekolah Cor Jesu yang baru\ntanggal 18 April 1958, karena Bangkong akan digunakan untuk perluasan SMA.\nBeberapa Suster mengunjungi lokasi jalan Halmahera, sedangkan pada tanggal 11\nSeptember 1958 pengerjaan pondasi bangunan sekolah. Untuk perpindahan Sekolah\nRakyat Cor Jesu dari Bangkong ke jalan Halmahera pada tanggal 30 Mei 1959.\nUntuk peresmian dan pemberkatan Sekolah Cor Jesu di jalan Halmahera pada\ntanggal 6 Juni 1959. Murid-murid mengenakan seragam putih dengan balero merah\ndan topi. Jam 08.00 pagi mereka berbaris beriringan didahului regu pramuka yang\nmemainkan terompet. Pemberkatan dilakukan oleh Pastor Verlaan, yang dihadiri\njuga antara lain Pastor Schouten dari paroki Gedangan dan paroki Atmodirono\nserta Bruder dari sekolah St. Yusup, anggota parlemen, Moeder Overste Theophile\nbeserta stafnya, suster-suster dari seluruh semarang dan para orangtua murid.\nSetelah pemberkatan salib, semua kelas diberkati satu persatu dan\nmengumandangkan lagu \u201cVeni Creator\u201d. Pesta dimulai dengan pengibaran bendera\nmerah putih dan lagu Indonesia raya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 29 Juli 1961 Suster Monica Marceline\ndiangkat menjadi Kepala Sekolah Rakyat Cor Jesu menggantikan Suster Mechtildes\nSoekarni yang diangkat menjadi Overste di Salatiga. Pemerintah memutuskan\nmengganti nama Sekolah Rakyat menjadi Sekolah Dasar tanggal 11 Desember 1961,\nmaka Sekolah Rakyat Cor Jesu pun berubah nama menjadi Sekolah Dasar Marsudirini\nCor Jesu sampai sekarang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah dan Perkembangan SD Cor Jesu Sejarah berdirinya SD Cor Jesu dimulai pada tahun 1911 menyusul dibukanya sekolah-sekolah dan beberapa macam kursus di Bojong pada tahun 1909. Meskipun situasi politik saat itu tidak menentu, dimana terjadi penjajahan, perang dan tantangan kekurangan pangan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para Suster untuk mempertahankan sekolah ini, karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-103","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=103"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/103\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":104,"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/103\/revisions\/104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sdcorjesu.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}